Tunalaras (Pengertian, Karakteristik & Klasifikasi)

you you Follow  19 Dec 2018   10 Mins read
Tunalaras (Pengertian, Karakteristik & Klasifikasi)

Tunalaras (Pengertian, Karakteristik & Klasifikasi)

ArtiPedia Banyak istilah dalam memberikan label kepada anak tunalaras. Istilah-istilah tersebut digunakan tergantung pada sudut pandang keilmuan yang digeluti para ahli yang menelitinya. Misalnya, masyarakat pada umumnya menyebut anak sulit diatur, anak sukar, anak nakal.

Begitu juga dalam literatur asing banyak istilah yang mengupas tentang pendidikan dan psikoterapi bagi anak yang mengalami gangguan emosi dan sosial, seperti: serious emotional disturbance children, emotional conflict children, emotional disturbance children, emotional handicap children, emotional impairment children, behavior disorder children, behavior handicap children, behavior impairment children, severe behavior children, social and emotional children, dan sebaginya.

Pengertian Tunalaras Menurut Para Ahli

Menurut Samuel A. Kirk bahwa anak tunalaras adalah mereka yang terganggu perkembangan emosi, menunjukkan adanya konflik dan tekanan batin, menunjukkan kecemasan, penderita neurotis atau bertingkahlaku psikotis. Dengan terganggunya aspek emosi dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain atau lingkungannya.

Anak tunalaras adalah suatu tingkahlaku yang tidak sesuai dengan cultur permissive atau menurut norma keluarga, sekolah dan masyarakat luas. Sedangkan menurut Nelson (1981), seorang anak dikatakan tunalaras apabila tingkahlaku mereka menyimpang dari ukuran menurut norma, usia, jenis kelamin, dilakukan dengan frekwensi dan intensitas relatif tinggi, serta dalam waktu relatif lama.

Menurut Maud A. Merril, seorang anak digolongkan tunalaras apabila tingkahlaku mereka ada kecenderungan-kecenderungan anti social yang memuncak dan menimbulkan gangguan-gangguan, sehingga yang berwajib terpaksa mengambil tindakan dengan jalan menangkap dan mengasingkannya.

Sedangkan Ibrahim Husien, mejelaskan bahwa anak-anak menjadi delinquent apabila tingkahlakunya menyeret dia ke dalam daerah hukum. Dan menurut Romli Atmasasmita, delinquency adalah suatu tindakan atau perbuatan yeng dilakukan oleh seorang anak yang dianggap bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku disuatu negara dan oleh masyarakat itu sendiri dirasakan dan ditafsirkan sebagai perbuatan tercela.

Klasifikasii / Penggolongan Tunalaras

Penggolongan anak tunalaras dapat ditinjau dari segi gangguan atau hambatan dan kualifikasi berat ringannya kenakalan, dengan penjelasan sbb :

Gangguan Emosi

Anak tunalaras yang mengalami hambatan atau gangguan emosi terwujud dalam tiga jenis perbuatan, yaitu: senang-sedih, lambat cepat marah, dan releks-tertekan. Secara umum emosinya menunjukkan sedih, cepat tersinggung atau marah, rasa tertekandan merasa cemas. Gangguan atau hambatan terutama tertuju pada keadaan dalam dirinya.

Macam-macam gejala hambatan emosi

  1. Gentar, yaitu suatu reaksi terhadap suatu ancaman yang tidak disadari, misalnya ketakutan yang kurang jelas obyeknya.
  2. Takut, yaitu rekasi kurang senang terhadap macam benda, mahluk, keadaan atau waktu tertentu. Pada umumnya anak merasa takut terhadap hantu, monyet, tengkorak, dan sebagainya.
  3. Gugup/nervous, yaitu rasa cemas yang tampak dalam perbuatan-perbuatan aneh. Gerakan pada mulut seperti meyedot jari, gigit jari dan menjulurkan lidah. Gerakan aneh sekitar hidung, seperti mencukil hidung, mengusap-usap atau menghisutkan hidung. Gerakan sekitar jari seperti mencukil kuku, melilit-lilit tangan atau mengepalkan jari. Gerakan sekitar rambut seperti, mengusap-usap rambut, mencabuti atau mencakar rambut. Demikian pula gerakan-gerakan seperti menggosok-menggosok, mengedip-ngedip mata dan mengrinyitkan muka, dan sebagainya.
  4. Sikap iri hati yang selalu merasa kurang senang apabila orang lain memperoleh keuntungan dan kebahagiaan. Perusak, yaitu memperlakukan bedan-benda di sekitarnya menjadi hancur dan tidak berfungsi. Malu, yaitu sikap yang kurang matang dalam menghadapi tuntunan kehidupan. Mereka kurang berang menghadapi kenyataan pergaulan. Rendah diri, yaitu sering minder yang mengakibatkan tindakannya melanggar hukum karena perasaan tertekan.

    Gangguan Sosial

    Anak ini mengalami gangguan atau merasa kurang senang menghadapi pergaulan. Mereka tidak dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan hidup bergaul. Gejala-gejala perbuatan itu adalah seperti sikap bermusuhan, agresip, bercakap kasar, menyakiti hati orang lain, keras kepala, menentang menghina orang lain, berkelahi, merusak milik orang lain dan sebagainya. Perbuatan mereka terutama sangat mengganggu ketenteraman dan kebahagiaan orang lain.

Beberapa data tentang anak tunalaras dengan gangguan sosial antara lain adalah:

  1. Mereka datang dari keluarga pecah (broken home) atau yang sering kena marah karena kurang diterima oleh keluarganya.
  2. Biasa dari kelas sosial rendah berdasarkan kelas-kelas sosial.
  3. Anak yang mengalami konflik kebudayaan yaitu, perbedaan pandangan hidup antara kehidupan sekolah dan kebiasaan pada keluarga.
  4. Anak berkecerdasan rendah atau yang kurang dapat mengikuti kemajuan pelajaran sekolah.
  5. Pengaruh dari kawan sekelompok yang tingkah lakunya tercela dalam masyarakat.
  6. Dari keluarga miskin.
  7. Dari keluarga yang kurang harmonis sehingga hubungan kasih sayang dan batin umumnya bersifat perkara. Salah satu contoh, kita sering mendengar anak delinkwensi. Sebenarnya anak delinkwensi merupakan salah satu bagian anak tunalaras dengan gangguan karena social perbuatannya menimbulkan kegocangan ketidak bahagiaan/ketidak tentraman bagi masyarakat. Perbuatannya termasuk pelanggaran hukum seperti perbuatan mencuri, menipu, menganiaya, membunuh, mengeroyok, menodong, mengisap ganja, anak kecanduan narkotika, dan sebagainya.

Klasifikasi berat-ringannya kenakalan

Ada beberapa kriteria yang dapat dijadikan pedoman untuk menetapkan berat ringan kriteria itu adalah:

  1. Besar kecilnya gangguan emosi, artinya semikin tinggi memiliki perasaan negative terhadap orang lain. Makin dalam rasa negative semakin berat tingkat kenakalan anak tersebut.
  2. Frekwensi tindakan, artinya frekwensi tindakan semakin sering dan tidak menunjukkan penyesalan terhadap perbuatan yang kurang baik semakin berat kenakalannya.
  3. Berat ringannya pelanggaran/kejahatan yang dilakukan dapat diketahui dari sanksi hukum.
  4. Tempat/situasi kenalakan yang dilakukan artinya Anak berani berbuat kenakalan di masyarakat sudah menunjukkan berat, dibandingkan dengan apabila di rumah.
  5. Mudah sukarnya dipengaruhi untk bertingkah laku baik. Para pendidikan atau orang tua dapat mengetahui sejauh mana dengan segala cara memperbaiki anak. Anak “bandel” dan “keras kepala” sukar mengikuti petunjuk termasuk kelompok berat.
  6. Tunggal atau ganda ketunaan yang dialami. Apabila seorang anak tunalaras juga mempunyai ketunaan lain maka dia termasuk golongan berat dalam pembinaannya.

Kriteria ini dapat menjadi pedoman pelaksanaan penetapan berat-ringan kenakalan untuk dipisah dalam pendidikannya.

Karakteristik Tunalaras

Karakteristik tunalaras yang dikemukakan Hallahan dan kauffman (1986) berdasarkan dimensi tingkah laku anak tunalaras adalah sebagai berikut:

Anak yang mengalami gangguan perilaku

  1. Berkelahi, memukul menyerang
  2. Pemarah
  3. Pembangkang
  4. Suka merusak
  5. Kurang ajar, tidak sopan
  6. Penentang, tidak mau bekerjasama
  7. Suka menggangu
  8. Suka ribut, pembolos
  9. Mudah marah, Suka pamer
  10. Hiperaktif, pembohong
  11. Iri hati, pembantah
  12. Ceroboh, pengacau
  13. Suka menyalahkan orang lain
  14. Mementingkan diri sendiri

Anak yang mengalami kecemasan dan menyendiri:

  1. Cemas
  2. Tegang
  3. Tidak punya teman
  4. Tertekan
  5. Sensitif
  6. Rendah diri
  7. Mudah frustasi
  8. Pendiam
  9. Mudah bimbang

Anak yang kurang dewasa

  1. Pelamun
  2. Kaku
  3. Pasif
  4. Mudah dipengaruhi
  5. Pengantuk
  6. Pemborosan

Anak yang agresif bersosialisasi

  1. Mempunyai komplotan jahat
  2. Berbuat onar bersama komplotannya
  3. Membuat genk
  4. Suka diluar rumah sampai larut
  5. Bolos sekolah
  6. Pergi dari rumah

Selain karakteristik diatas, berikut ini karakteristik yang berkaitan dengan segi akademik, sosial/ emosional dan fisik/ kesehatan anak tuna laras.

Karakteristik Akademik:

Kelainan perilaku mengakibatkan penyesuaian sosial dan sekolah yang buruk. Akibatnya, dalam belajarnya memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Hasil belajar dibawah rata-rata
  2. Sering berurusan dengan guru BK
  3. Tidak naik kelas
  4. Sering membolos
  5. Sering melakukan pelanggaran, baik disekolah maupun dimasyarakat, dll

Karakteristik Sosial/ Emosional:

Karakteristik sosial/ emosional tunalaras dapat dijelaskan sebagai berikut:

A. Karakteristik Sosial

Masalah yang menimbulkan gangguan bagi orang lain: 1) Perilaku itu tidak diterima masyarakat, biasanya melanggar norma budaya Perilaku itu bersifat menggangu, dan dapat dikenai sanksi oleh kelompok sosial; 2) Perilaku itu ditandai dengan tindakan agresif yaitu: Tidak mengikuti aturan, Bersifat mengganggu, Bersifat membangkang dan menentang, dan Tidak dapat bekerjasama; 3) Melakukan tindakan yang melanggar hukum dan kejahatan remaja

B. Karakteristik Emosional

  1. Hal-hal yang menimbulkan penderitaan bagi anak, misalnya tekanan batin dan rasa cemas
  2. Ditandai dengan rasa gelisah, rasa malu, rendah diri, ketakutan dan sifat perasa/ sensitif

C. Karakteristik Fisik/ kesehatan

Pada anak tuna laras umumnya masalah fisik/ kesehatan yang dialami berupa gangguan makan, gangguan tidur atau gangguan gerakan. Umumnya mereka merasa ada yang tidak beres dengan jasmaninya, ia mudah mengalami kecelakaan, merasa cemas pada kesehatannya, seolah-olah merasa sakit, dll. Kelainan lain yang berupa fisik yaitu gagap, buang air tidak terkontrol, sering mengompol, dll.

Bergabunglah bersama ArtiPedia, jadilah kontributor, tuangkan tulisan anda disini. Klik daftar untuk memulai. Kontribusi anda akan sangat berarti bagi pembaca. Terima Kasih...
Revisi halaman ini dengan tombol edit dibawah, bila menurut anda ada yang keliru, ada yang perlu ditambahkan agar isi konten lebih baik lagi. Edit
Tunggu hingga dokumen munculTutup